Meaning of Tiktok Content Messages about Self Harm and Their Implications for Gen Z

Authors

  • Vania Falah Nabila Putri Stikosa AWS
  • Yunita Indinabila Stikosa AWS
  • E. Rizky Wulandari Stikosa - AWS
  • Eddy Christijanto Stikosa - AWS
  • Supriadi Stikosa - AWS

DOI:

https://doi.org/10.37826/spektrum.v14i2.1236

Keywords:

Tiktok, Self Harm, Z Generation, Message Interpretation, New Media

Abstract

The interpretation of messages in TikTok content themed around self-harm among Generation Z is important because this platform is increasingly used as a place to express emotions. As a generation familiar with digital culture, Gen Z understands messages not only from direct narratives but also from the symbols, music, and visuals used in the content. This study uses a qualitative approach with a phenomenological method through in-depth interviews with five informants aged 18 to 24 who are active on TikTok. Data analysis is carried out through the process of reduction, presentation, and conclusion drawing, as well as connecting the findings with New Media Theory, Social Cognitive Theory, and Berlo's Communication Model (SMCR). The research results show that self-harm content is understood not only as an act of self-injury but also as a form of expressing feelings such as loneliness, emotional pressure, and the need for validation. Symbols like “barcode,” dark visuals, mellow music, and short texts become elements that shape meaning patterns among Gen Z. Overall, this study highlights the importance of digital literacy and attention to mental health, from society, parents, educators, to policymakers, so that the meaning of sensitive content like self-harm can be understood and addressed more wisely.

Author Biographies

E. Rizky Wulandari, Stikosa - AWS

Pemaknaan pesan dalam konten TikTok bertema self harm di kalangan Generasi Z menjadi penting karena platform ini semakin sering digunakan sebagai tempat mengekspresikan emosi. Sebagai generasi yang akrab dengan budaya digital, Gen Z memahami pesan tidak hanya dari narasi langsung, tetapi juga dari simbol, musik, dan visual yang digunakan dalam konten. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi melalui wawancara mendalam kepada lima informan berusia 18 hingga 24 tahun yang aktif menggunakan TikTok. Analisis data dilakukan melalui proses reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, serta mengaitkan temuan dengan Teori New Media, Teori Kognitif Sosial, dan Model Komunikasi Berlo (SMCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konten self harm dimaknai bukan hanya sebagai tindakan menyakiti diri, tetapi sebagai bentuk ekspresi perasaan seperti kesepian, tekanan emosional, dan kebutuhan untuk divalidasi. Simbol seperti “barcode”, visual gelap, musik mellow, dan teks singkat menjadi elemen yang membentuk pola pemaknaan di kalangan Gen Z. Secara keseluruhan, penelitian ini menyoroti pentingnya literasi digital dan perhatian terhadap kesehatan mental, baik dari masyarakat, orang tua, tenaga pendidik, maupun pembuat kebijakan, agar pemaknaan konten sensitif seperti self harm dapat dipahami dan disikapi dengan lebih bijak.

Eddy Christijanto, Stikosa - AWS

Pemaknaan pesan dalam konten TikTok bertema self harm di kalangan Generasi Z menjadi penting karena platform ini semakin sering digunakan sebagai tempat mengekspresikan emosi. Sebagai generasi yang akrab dengan budaya digital, Gen Z memahami pesan tidak hanya dari narasi langsung, tetapi juga dari simbol, musik, dan visual yang digunakan dalam konten. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi melalui wawancara mendalam kepada lima informan berusia 18 hingga 24 tahun yang aktif menggunakan TikTok. Analisis data dilakukan melalui proses reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, serta mengaitkan temuan dengan Teori New Media, Teori Kognitif Sosial, dan Model Komunikasi Berlo (SMCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konten self harm dimaknai bukan hanya sebagai tindakan menyakiti diri, tetapi sebagai bentuk ekspresi perasaan seperti kesepian, tekanan emosional, dan kebutuhan untuk divalidasi. Simbol seperti “barcode”, visual gelap, musik mellow, dan teks singkat menjadi elemen yang membentuk pola pemaknaan di kalangan Gen Z. Secara keseluruhan, penelitian ini menyoroti pentingnya literasi digital dan perhatian terhadap kesehatan mental, baik dari masyarakat, orang tua, tenaga pendidik, maupun pembuat kebijakan, agar pemaknaan konten sensitif seperti self harm dapat dipahami dan disikapi dengan lebih bijak.

Supriadi, Stikosa - AWS

Pemaknaan pesan dalam konten TikTok bertema self harm di kalangan Generasi Z menjadi penting karena platform ini semakin sering digunakan sebagai tempat mengekspresikan emosi. Sebagai generasi yang akrab dengan budaya digital, Gen Z memahami pesan tidak hanya dari narasi langsung, tetapi juga dari simbol, musik, dan visual yang digunakan dalam konten. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi melalui wawancara mendalam kepada lima informan berusia 18 hingga 24 tahun yang aktif menggunakan TikTok. Analisis data dilakukan melalui proses reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, serta mengaitkan temuan dengan Teori New Media, Teori Kognitif Sosial, dan Model Komunikasi Berlo (SMCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konten self harm dimaknai bukan hanya sebagai tindakan menyakiti diri, tetapi sebagai bentuk ekspresi perasaan seperti kesepian, tekanan emosional, dan kebutuhan untuk divalidasi. Simbol seperti “barcode”, visual gelap, musik mellow, dan teks singkat menjadi elemen yang membentuk pola pemaknaan di kalangan Gen Z. Secara keseluruhan, penelitian ini menyoroti pentingnya literasi digital dan perhatian terhadap kesehatan mental, baik dari masyarakat, orang tua, tenaga pendidik, maupun pembuat kebijakan, agar pemaknaan konten sensitif seperti self harm dapat dipahami dan disikapi dengan lebih bijak.

References

Feroza, C. S., & Misnawati, D. (2020). PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL INSTAGRAM PADA AKUN @YHOOPHII_OFFICIAL SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI DENGAN PELANGGAN. JURNAL INOVASI, 14(1), 32–41.

Fitzgerald, J., & Curtis, C. (2017). Non-suicidal self-injury in a New Zealand student population: Demographic and self-harm characteristics. New Zealand Journal of Psychology, 46(3), 156–163.

Hidayati, D. S., & Muthia, E. N. (2016). KESEPIAN DAN KEINGINAN MELUKAI DIRI SENDIRI REMAJA. Psympathic : Jurnal Ilmiah Psikologi, 2(2), 185–198. https://doi.org/10.15575/psy.v2i2.459

Ilahin, N. (2022). Pengaruh Pengunaan Media Sosial Tik-Tok terhadap Karakter Siswa Kelas V Madrasah Ibtidaiyah. IBTIDA’, 3(1), 112–119. https://doi.org/10.37850/ibtida.v3i1.300

Indinabila, Y. (2020). PEMBERITAAN MEDIA PENGARUHI POLA PIKIR DAN TINGKAH LAKU MASYARAKAT DI TENGAH PANDEMI COVID-19. Al-Hikmah: Jurnal Studi Islam, 1(3), 127–134.

Kemp, S. (2025a, Februari 5). Digital 2025: Global Overview Report. DATAREPORTAL. https://datareportal.com/reports/digital-2025-global-overview-report

Kemp, S. (2025b, Februari 5). Digital 2025: Top social platforms in 2025. DATAREPORTAL. https://datareportal.com/reports/digital-2025-sub-section-top-social-platforms

Mikucki, J. (2021). The Age of Algorithms: Interview with Professor Lev Manovich. Central European Journal of Communication, 14(29), 343–349. https://doi.org/10.51480/1899-5101.14.2(29).8

Mudayat, & Mualip, M. (2024). PENERAPAN TEORI KOGNITIF SOSIAL OLAHRAGA DI SEKOLAH SMA VIP ALHUDA KEBUMEN 2024. Jurnal Pendidikan Universitas Garut, 18(1), 93–108.

Mulyana, D. (2017). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Remaja Rosdakarya.

Ningsih, E. F. (2023). Teori sosial kognitif tinjauan kritis teori pendidikan yang relevan bagi Indonesia. Humanika, 23(1), 21–26.

Novita, D., Herwanto, A., Mayndarto, E. C., Maulana, M. A., & Hanifah. (2023). Penggunaan Media Sosial TikTok Sebagai Media Promosi Pemasaran Dalam Bisnis Online. Jurnal Minfo Polgan, 12(2), 2543–2550. https://doi.org/10.33395/jmp.v12i2.13312

Paes, A. (2017). Self-harm in adolescence. InnovAiT: Education and Inspiration for General Practice. Sage Journals, 10(4).

Pradana, F., & Effendi, E. (2024). The Filter Bubble Trap: The Effect of TikTok Media on Language Use and Interaction Among Communication Science Students at UINSU. Jurnal Ilmu Komunikasi Dan Media Sosial (JKOMDIS), 04(02), 481–490.

Prabowo, K. W. (2023). KPAI Soroti Tren Ajakan Selfharm TikTok, Perlu Ada Sanksi. Media Indonesia. https://mediaindonesia.com/humaniora/627708/kpai-soroti-tren-ajakan-selfharm-tiktok-perlu-ada-sanksi

Pusvita, & Mauliansyah, F. (2021). POLA PRODUKSI BERITA PADA WEBSITE www.acehbaratdayakab.go.id SEBAGAI MEDIA INFORMASI HUBUNGAN MASYARAKAT PEMERINTAHAN ACEH BARAT DAYA. JIMSI: JURNAL ILMIAH MAHASISWA KOMUNIKASI, 1(2), 95–102.

Putra, Y. S. (2016). THEORITICAL REVIEW: TEORI PERBEDAAN GENERASI. Among Makarti, 9(2), 123–134. https://doi.org/10.52353/ama.v9i2.142

Putri, N., & Irma, A. (2023). Media Sosial dan Isolasi Digital (Kajian Teori Information Gaps pada Algoritma Filter Bubble). Sadida Islamic Communications Media Studies, 3(1), 17–32.

Saputra, D. (2019). PENERAPAN ART THERAPY UNTUK MENGURANGI PERILAKU MENYAKITI DIRI SENDIRI (SELF-INJURIOUS BEHAVIOR) PADA DEWASA MUDA YANG MENGALAMI DISTRESS PSIKOLOGIS. INQUIRY: Jurnal Ilmiah Psikologi, 10(1), 26–40. https://doi.org/10.51353/inquiry.v10i1.225

Thesalonika, & Apsari, N. C. (2022). PERILAKU SELF-HARM ATAU MELUKAI DIRI SENDIRI YANG DILAKUKAN OLEH REMAJA (SELF-HARM OR SELF-INJURING BEHAVIOR BY ADOLESCENTS). Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial, 4(2), 213–224. https://doi.org/10.24198/focus.v4i2.31405

Verenisa, A., Suryani, & Sriati, A. (2021). Gambaran Self-Injury Mahasiswa. Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa, 4(1), 43–56.

Wulandari, V., Rullyana, G., & Ardiansah, A. (2021). Pengaruh algoritma filter bubble dan echo chamber terhadap perilaku penggunaan internet. Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 17(1), 98–111. https://doi.org/10.22146/bip.v17i1.423

Yanuardianto, E. (2019). Teori Kognitif Sosial Albert Bandura (Studi Kritis Dalam Menjawab Problem Pembelajaran di Mi). Auladuna : Jurnal Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 1(2), 94–111. https://doi.org/10.36835/au.v1i2.235

Yunita, N. (2018). PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL INSTAGRAM UNTUK MENUNJANG PERAN DUTA WISATA 2016-2017 DALAM MEMPROMOSIKAN PARIWISATADI KALIMANTAN TIMUR. eJournal Ilmu Komunikasi, 6(3), 136–148.

Downloads

Published

2026-06-30

Similar Articles

<< < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.