Sanctum of Savoursn : A Treatise on Gastronomic Voyages and the Essence of Identity

Sebuah Risalah tentang Perjalanan Gastronomi dan Hakikat Identitas

Authors

  • Gerson Ralph Manuel Kho Universitas Bunda Mulia
  • Zera Edenzwo Subandi Universitas Bunda Mulia, Jakarta
  • Surianto 4Universitas Bunda Mulia, Jakarta
  • Steven Theodore Alexander Universitas Bunda Mulia, Jakarta

DOI:

https://doi.org/10.37826/spektrum.v13i4.1058

Keywords:

Social Identity Theory, Sudirman Street, Bandung, Gastronomic City, Social Negotiation, Tolerance Boundaries, Culinary Ecosystem

Abstract

Sudirman Street in Bandung has become a unique phenomenon in the urban landscape of Indonesia. As a popular culinary district, it draws attention due to the presence of non-halal food amidst a predominantly Muslim population. This condition raises questions about how cultural tolerance, religious identity, and economic dynamics interact in public spaces. This study employs the social-identity theory and the concept of a gastronomic city, using direct observation and literature review methods to analyze the cultural negotiation processes that occur. Observation was conducted to understand the social dynamics of the area, while the literature review was used to strengthen the theoretical analysis. The findings reveal that tolerance in this area is pragmatic, managed through space segmentation between halal and non-halal dining areas, as well as social norms emphasizing respect for individual beliefs. Furthermore, this area functions as a representation of a gastronomic city, where cross-cultural experiences are presented through culinary exploration. This study contributes to academic discourse on the formation of tolerance spaces in urban contexts, particularly in areas with cultural and religious pluralism. Thus, Sudirman Street is not merely a culinary hub but also a social negotiation space that reflects the flexibility of identity and urban societal harmony

Author Biographies

Zera Edenzwo Subandi, Universitas Bunda Mulia, Jakarta

<em>Sudirman Street di Bandung telah menjadi fenomena unik dalam lanskap urban di Indonesia. Sebagai kawasan kuliner populer, tempat ini menarik perhatian karena kehadiran makanan non-halal di tengah masyarakat mayoritas Muslim. Kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana toleransi budaya, identitas agama, dan dinamika ekonomi berinteraksi dalam ruang publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan teori social-identity dan konsep kota gastronomi, dengan metode observasi langsung serta studi pustaka untuk menganalisis proses negosiasi budaya yang terjadi. Observasi dilakukan untuk memahami dinamika sosial di kawasan tersebut, sementara studi pustaka digunakan untuk memperkuat analisis teoretis. Hasil kajian menunjukkan bahwa toleransi di kawasan ini bersifat pragmatis, yang dikelola melalui segmentasi ruang antara tempat makan halal dan non-halal, serta norma sosial yang menekankan penghormatan terhadap keyakinan individu. Lebih jauh, kawasan ini berfungsi sebagai representasi kota gastronomi, di mana pengalaman lintas budaya dihadirkan melalui eksplorasi kuliner. Studi ini memberikan kontribusi terhadap wacana akademik mengenai pembentukan ruang toleransi dalam konteks urban, khususnya di wilayah dengan pluralitas budaya dan agama. Dengan demikian, Sudirman Street bukan hanya sekadar pusat kuliner, tetapi juga ruang negosiasi sosial yang merefleksikan fleksibilitas identitas dan harmoni masyarakat perkotaan</em><em>.</em>

Surianto, 4Universitas Bunda Mulia, Jakarta

<em>Sudirman Street di Bandung telah menjadi fenomena unik dalam lanskap urban di Indonesia. Sebagai kawasan kuliner populer, tempat ini menarik perhatian karena kehadiran makanan non-halal di tengah masyarakat mayoritas Muslim. Kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana toleransi budaya, identitas agama, dan dinamika ekonomi berinteraksi dalam ruang publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan teori social-identity dan konsep kota gastronomi, dengan metode observasi langsung serta studi pustaka untuk menganalisis proses negosiasi budaya yang terjadi. Observasi dilakukan untuk memahami dinamika sosial di kawasan tersebut, sementara studi pustaka digunakan untuk memperkuat analisis teoretis. Hasil kajian menunjukkan bahwa toleransi di kawasan ini bersifat pragmatis, yang dikelola melalui segmentasi ruang antara tempat makan halal dan non-halal, serta norma sosial yang menekankan penghormatan terhadap keyakinan individu. Lebih jauh, kawasan ini berfungsi sebagai representasi kota gastronomi, di mana pengalaman lintas budaya dihadirkan melalui eksplorasi kuliner. Studi ini memberikan kontribusi terhadap wacana akademik mengenai pembentukan ruang toleransi dalam konteks urban, khususnya di wilayah dengan pluralitas budaya dan agama. Dengan demikian, Sudirman Street bukan hanya sekadar pusat kuliner, tetapi juga ruang negosiasi sosial yang merefleksikan fleksibilitas identitas dan harmoni masyarakat perkotaan</em><em>.</em>

Steven Theodore Alexander, Universitas Bunda Mulia, Jakarta

<em>Sudirman Street di Bandung telah menjadi fenomena unik dalam lanskap urban di Indonesia. Sebagai kawasan kuliner populer, tempat ini menarik perhatian karena kehadiran makanan non-halal di tengah masyarakat mayoritas Muslim. Kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana toleransi budaya, identitas agama, dan dinamika ekonomi berinteraksi dalam ruang publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan teori social-identity dan konsep kota gastronomi, dengan metode observasi langsung serta studi pustaka untuk menganalisis proses negosiasi budaya yang terjadi. Observasi dilakukan untuk memahami dinamika sosial di kawasan tersebut, sementara studi pustaka digunakan untuk memperkuat analisis teoretis. Hasil kajian menunjukkan bahwa toleransi di kawasan ini bersifat pragmatis, yang dikelola melalui segmentasi ruang antara tempat makan halal dan non-halal, serta norma sosial yang menekankan penghormatan terhadap keyakinan individu. Lebih jauh, kawasan ini berfungsi sebagai representasi kota gastronomi, di mana pengalaman lintas budaya dihadirkan melalui eksplorasi kuliner. Studi ini memberikan kontribusi terhadap wacana akademik mengenai pembentukan ruang toleransi dalam konteks urban, khususnya di wilayah dengan pluralitas budaya dan agama. Dengan demikian, Sudirman Street bukan hanya sekadar pusat kuliner, tetapi juga ruang negosiasi sosial yang merefleksikan fleksibilitas identitas dan harmoni masyarakat perkotaan</em><em>.</em>

References

Bessiere, J. (1998). Local development and heritage: traditional food and cuisine as tourist attractions in rural areas. Sociologia Ruralis, 38(1). https://doi.org/10.1111/1467-9523.00061

Björk, P., & Kauppinen-Räisänen, H. (2016). Local food: a source for destination attraction. International Journal of Contemporary Hospitality Management, 28(1). https://doi.org/10.1108/IJCHM-05-2014-0214

Croce, E., & Perri, G. (2017). Food and wine tourism: integrating food, travel and terroir. In Food and wine tourism: integrating food, travel and iterroir/i. https://doi.org/10.1079/9781786391278.0000

Damayanti, V., Ekasari, A. M., & Syaodih, E. (2020). The Determinants of Cultural Tourism Attractions Based on Tourist Satisfaction in the Sundapolis Area, Bandung City. https://doi.org/10.2991/assehr.k.200225.117

Forleo, M. B., & Benedetto, G. (2020). Creative Cities of Gastronomy: Towards relationship between city and countryside. International Journal of Gastronomy and Food Science, 22. https://doi.org/10.1016/j.ijgfs.2020.100247

Hall, C. M., & Sharples, L. (2003). The consumption of experiences or the experience of consumption? An introduction to the tourism of taste. In Food Tourism Around The World. https://doi.org/10.4324/9780080477862

Handoyo, K. (2019). Amankah Makanan Anda? In Amankah Makanan Anda?

Haryanto, J. T. (2014). Kearifan Lokal Pendukung Kerukunan Beragama pada Komuntias Tengger Malang Jatim. Analisa, 21(2). https://doi.org/10.18784/analisa.v21i02.15

Hernandez, K. J., Gillis, D., Kevany, K., & Kirk, S. (2021). Towards a common understanding of food literacy. Canadian Food Studies / La Revue Canadienne Des Études Sur l’alimentation, 8(4). https://doi.org/10.15353/cfs-rcea.v8i4.467

Long, L. (1998). A Folkloristic Perspective on Eating and Otherness. In Culinary Tourism (Vol. 55, Issue 3).

Long, M. L. (2013). A Folkloristic Perspective on Eating and Otherness. In M. L. Long (Ed.), Culinary Tourism (pp. 21–50). University Press of Kentucky.

Mervia, R. A., & Kho, G. R. (2024). The Taste, Ritual, and Cultural Essence Within a Bowl of Mie Rebus Belitung. Lontar : Journal of Communication Science, 12(1), 264-273.

Oemar, H., Achiraeniwati, E., Rejeki, Y. S., Septiani, A., & Amrullah, E. (2020). Improving the Awareness of Providing Halal Food Among Street Vendors. https://doi.org/10.2991/assehr.k.200225.005

Rachmad, T. H., & Kho, G. R. (2021). MAULID NABI CELEBRATION ARENA IN THE CONTEXT OF SOCIAL SCIENCE. International Conference on Social and Islamic Studies 2021 (hal. 1010-1016). Makassar: UIN Alauddin.

Rahmawati, Di. (2021). Potensi Dark Tourism Di Bandung. Media Wisata, 16(1). https://doi.org/10.36276/mws.v16i1.261

Resmi, I. C., Dhewanto, W., & Dellyana, D. (2023). Gastronomy Tourism: Local Food and Tourism Experience in Bandung. The Journal Gastronomy Tourism, 10(2). https://doi.org/10.17509/gastur.v10i2.63659

Richards, G. (2002). Gastronomy: an essential ingredient in tourism production and consumption? In Tourism and Gastronomy. https://doi.org/10.4324/9780203218617-7

Rusnandar, N. (2010). SEJARAH KOTA BANDUNG DARI ”BERGDESSA” (DESA UDIK) MENJADI BANDUNG ”HEURIN KU TANGTUNG” (METROPOLITAN). Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah Dan Budaya, 2(2). https://doi.org/10.30959/patanjala.v2i2.219

Surianto, Kho, G. R., Gunarti, D. S., Fensi, F., & Limbong, Y. C. (2025). Program Pendampingan dan Pelatihan: Implementasi Ragam Komunikasi pada Sivitas Akademika SMA Kristoforus II Jakarta. Riwayat: Educational Journal of History and Humanities, 8(1), 384-392.

Suyono, S. (2020). PERAN MEDIA ARUS UTAMA DALAM MEMUBLIKASIKAN PRODUK MAKANAN HALAL. MEDIAKOM, 3(2). https://doi.org/10.32528/mdk.v3i2.3128

Tajfel, H., & Turner, J. C. (1979). An integrative theory of intergroup behavior. In Social Psychology of Intergroup Relations.

Wijaya, K. R. A., Liesteandre, H. K., & Saputra, I. G. G. (2021). PREFERENSI WISATAWAN DOMESTIK DALAM MEMILIH PRODUK WISATA GASTRONOMI DI KUTA BALI. Jurnal Gastronomi Indonesia, 9(2). https://doi.org/10.52352/jgi.v9i2.658

Yulita, H., Subandi, Z. E., & Kantawijaya, I. S. (2023). Pengaruh Lokasi Dan Pemasaran Digital Terhadap Minat Beli Kain Tenun. Jurnal E-Bis:Ekonomi Bisnis, 7(2), 622-636.

Downloads

Published

2025-12-31

Most read articles by the same author(s)

Similar Articles

<< < 7 8 9 10 11 12 13 14 15 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.