Jebakan ‘Harga Murah Semu’ Layanan Daring Pengantar Makanan Go-Food dan Grab Food
DOI:
https://doi.org/10.37826/spektrum.v10i1.274Kata Kunci:
Budaya Konsumen, Budaya Popular, Aplikasi layanan daring, FenomenologiAbstrak
Aplikasi delivery services semacam Gojek dan Grab dalam beberapa tahun terakhir ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kota, menjadi salah satu instrument pemenuhan kebutuhan para konsumer urban yang disebut hidup dalam mobilitas tinggi. Khususnya Online food delivery service (Layanan daring pengantar makanan) GO-FOOD dan GRAB FOOD yang menjanjikan pemenuhan kebutuhan layanan pengantar makanan dengan harga yang murah bahkan dengan diskon yang terlihat fantastis. Dengan segala maksud dan tujuannya, kedua layanan ini tidak hanya mampu membantu menyelesaikan problem “waktu” para warga urban yang terlalu sibuk dengan aktivitasnya, tetapi juga disediakan dengan harga murah sehingga menarik minat dan sulit diabaikan. Namun dengan beberapa pengamatan, harga murah layananan pengantar makanan ini menyembunyikan kecurigaan akademis, Benarkah gaya hidup ini tidak punya resiko bagi warga urban?. pertanyaan ini menjadikan penelusuran untuk mengamati gaya hidup seperti apa di balik konsumsi murah layanan antar jemput makanan daring ini, menjadi topik yang penting untuk dibicarakan. Apalagi dengan kondisi pandemik Covid 19 saat ini, dimana bisnis layanan antar jemput menjadi krusial. Peneltian ini menggunakan studi fenomenologi dengan observasi dan wawancara mendalam terhadap mitra driver gojek dan grab, pelaku usaha yang bermitra dengan kedua layanan online, hingga konsumen wilayah kota Surabaya, dan disandingkan dengan perspektif pop culture dan budaya konsumen untuk memberi gambaran menyeluruh bagaimana gaya hidup konsumen dalam mengonsumsi layanan daring ini. Hasilnya ditemukan bahwa layanan antar makanan yang murah dan banyak diskon hanyalah “jebakan” bagi para konsumernya. Para konsumer sedang dipaksakan untuk menjalani gaya hidup “high cost consumption” yang diselubungi dengan label harga murah dan diskon.
Referensi
Akhmad, R. A., Unde, A. A., & Cangara, H. (2018). Fenomenologi Penggunaan Televisi dan Media Sosial Dalam Menyikapi Budaya Pop Korea di Kalangan Remaja Makassar. KAREBA : Jurnal Ilmu Komunikasi, 7(1), 16–22. Retrieved from https://journal.unhas.ac.id/index.php/kareba/article/view/5246
Ali, Hasanuddin, Lilik, P., Nugroho, H., Halim, T., Firdaus, K., & Huda, N. (2020). Indonesia Gen Z And Millenial Report 2020: The Battle Of Our Generation. PT Alvara Strategi Indonesia, 134. Retrieved from http://alvara-strategic.com/indonesia-gen-z-and-millenial-report-2020/
Ali, Hasanudin, Purwandi, L., Nugroho, H., Ekoputri, A. W., & Halim, T. (2017). The Urban Middle-Class Indonesia: Financial and Online Behavior. Alvara Research Center.
Baudrillard, J., & Glaser, S. F. (1995). Simulacra and Simulation. Michigan: University of Michigan Press.
Bourdieu, P. (1984). Distinction A social Critique of the Judgement of Taste. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press.
Cindya Yunita, C. Y. P. (2020). Marketing Communication Strategy in Building Awareness Environmental Friendly Products in PT. Virtus Venturama: ( Studi Kasus Pada PT.Virtus Venturama). Jurnal Spektrum Komunikasi, 8(2), 149-158. https://doi.org/10.37826/spektrum.v8i2.89
Fajarni, S. (2019). EATING OUT SEBAGAI GAYA HIDUP (Studi Kasus Fenomena Remaja Kota Banda Aceh di Restoran Canai Mamak KL). Aceh Anthropological Journal, 3(1), 21. https://doi.org/10.29103/aaj.v3i1.2784
Fauzan, M. F., & Supratman, L. P. (2019). Studi Fenomenologi Tentang Komunikasi Antarpribadi Anggota Komunitas Anak Indigo Indonesia. Jurnal Manajemen Komunikasi, 1(2), 180. https://doi.org/10.24198/jmk.v1i2.11684
Hadi, A. (2018). Bridging Indonesia’s Digital Divide: Rural-Urban Linkages? Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 22(1), 17. https://doi.org/10.22146/jsp.31835
Hasan, M., & Suprihatin, S. (2020). MOTIF PENGGUNA FACEBOOK MENGUNGGAH KELUHAN TENTANG PELAYANAN PUBLIK. PAWITRA KOMUNIKA: Jurnal Komunikasi dan Sosial Humaniora, 1(1), 22-32.
Hasbiansyah, O. (2008). Pendekatan Fenomenologi: Pengantar Praktik Penelitian dalam Ilmu Sosial dan Komunikasi. MEDIATOR, 9(1), 163–178.
Hietanen, J., Murray, J. B., Sihvonen, A., & Tikkanen, H. (2020). Seduced by “fakes”: Producing the excessive interplay of authentic/counterfeit from a Baudrillardian perspective. Marketing Theory, 20(1), 23–43. https://doi.org/10.1177/1470593119870214
Ibrahim, I. S. (1997). Ecstasy, gaya hidup: kebudayaan pop dalam masyarakat komoditas Indonesia. Mizan. Retrieved from https://books.google.co.id/books?id=H0dwAAAAMAAJ
Irianto, & Subandi. (2016). Studi Fenomenologis Kebahagiaan Guru di Papua. Jurnal Psikologi UGM, 1(3), 140–166. https://doi.org/10.22146/gamajop.8812
Juditha, C., & Darmawan, J. (2018). Penggunaan Media Digital dan Partisipasi Politik Generasi Milenial. Jurnal Penelitian Komunikasi Dan Opini Publik, 22(2), 94–109. Retrieved from https://jurnal.kominfo.go.id/index.php/jpkop/article/view/1628
Kristiyono, J. (2015). Budaya Internet: Perkembangan Teknologi Informasi Dan Komunikasi Dalam Mendukung Penggunaan Media Di Masyarakat. Scriptura, 5(1), 23-30.
Kristiyono, J., & Ida, R. (2019). Digital etnometodologi: Studi media dan budaya pada masyarakat informasi di era digital. ETTISAL: Journal of Communication, 4(2), 109-120.
Lindgren, S. (2017). Digital Media and Society. SAGE Publications. Retrieved from https://www.perlego.com/book/1431730/digital-media-and-society-pdf
Morris, J. (2021). Simulacra in the Age of Social Media: Baudrillard as the Prophet of Fake News. Journal of Communication Inquiry, 45(4), 319–336. https://doi.org/10.1177/0196859920977154
Novianti, D., & Tripambudi, S. (2014). Studi fenomenologi : Tumbuhnya prasangka etnis di Yogyakarta. Jurnal Ilmu Komunikasi, 12(2), 119–135. Retrieved from http://jurnal.upnyk.ac.id/index.php/komunikasi/article/view/368
Rohmawati, Y. I. (2017). Negosiasi identitas sosial etnis jawa di kota metropolitan: sebuah studi fenomenologi pada masyarakat kampung jawa. Mediakom, 1(2), 144–163.
Saumantri, T., & Zikrillah, A. (2020). Teori Simulacra Jean Baudrillard Dalam Dunia Komunikasi Media Massa. ORASI: Jurnal Dakwah Dan Komunikasi, 11(2), 247. https://doi.org/10.24235/orasi.v11i2.7177
Storey, J. (2018). Cultural theory and popular culture: An introduction (8th ed.). New York: Routledge. https://doi.org/10.4324/9781315226866
Strinati, D. (2016). Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya. Yogyakarta: Narasi. Retrieved from http://opac.lib.ugm.ac.id/index.php?mod=book_detail&sub=BookDetail&act=view&typ=htmlext&buku_id=745106&unit_id=1900
Sukma Alam. (2020). the Role of Influencer as Persuasive Communication for Covid-19 Prevention. Jurnal Spektrum Komunikasi, 8(2), 136-148. https://doi.org/10.37826/spektrum.v8i2.106
Suprihatin, S. (2021). Menjemput Karya Generasi Muda Dari Pucuk Sidoarjo. Prapanca: Jurnal Abdimas, 1(2), 70-79.
Swartz, D. (2012). Culture and Power The Sociology of Pierre Bourdieu. Chicago: University of Chicago Press.
Widyaningrum, A. Y. (2021). Kajian Tentang Komunitas Virtual : Kesempatan dan Tantangan Kajian di Bidang Ilmu Komunikasi. 10(2), 141–152. https://doi.org/10.33508/jk.v10i2.3457














